Buku Panduan Pengembangan dan Pengelolaan Desa Wisata Berbasis Masyarakat yang Terintegrasi dan Berkelanjutan
Keywords:
Buku Panduan Pengembangan dan Pengelolaan Desa Wisata Berbasis Masyarakat yang Terintegrasi dan BerkelanjutanSynopsis
SPESIFIKASI BUKU
◉ Harga : Rp 45.000
◉ Ukuran : 21x 29,7cm
◉ Jumlah Halaman : 65 hal
◉ Ketebalan Buku : 1 cm
◉ ISBN : 978-623-448-200-3
◉ Deskripsi Buku : Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera bagi kita semua, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, salam kebajikan! Paska terjadinya gempa bumi dengan kekuatan 7.2SR yang terjadi pada 05 Agustus 2018, telah menyebabkan kerugian dan kerusakan yang sangat signifikan terhadap capaian pembangunan di Kab. Lombok Utara, tidak hanya infrastrruktur, tetapi juga sosial dan ekonomi, termasuk dalam hal ini sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung pendapatan asli daerah (PAD) Kab. Lombok Utara. Kerugian infrastruktur, ekonomi, dan sosial akibat gempa tersebut diperkirakan sekitar Rp 9 triliun. Jika APBD tahunan Kab. Lombok Utara kurang lebih sebesar 1 trilliun, maka perlu waktu sekitar 9 tahun untuk Lombok Utara berada pada posisi semula. Pada bulan Maret 2020, dimana masa pemulihan akibat gempa bumi belum selesai, Lombok Utara juga menghadapi pandemi Covid-19 yang lebih memberikan dampak secara ekonomi dengan adanya penutupan wilayah dan aktivitas sementara industri pariwisata yang kemudian berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) pekerja di hotel, restoran kafe, atraksi wisata serta tidak adanya kunjungan wisatawan baik asing maupun domestik yang semakin memberatkan pelaku sektor industri pariwisata karena tidak ada pendapatan sama sekali, tetapi pengeluaran untuk perawatan aset terus berjalan sehingga beberapa pemilik usaha, termasuk hotel dan restorant lebih memilih untuk menutup usahanya. Meski sektor pariwisata mendapatkan dampak yang sangat signifikan sampai kuartal 4 (empat) di tahun 2020, tetapi saatnya sektor pariwisata bangkit kembali, khususnya pariwisata tematik, yaitu desa wisata. Optimisme dalam membuka kembali desa wisata mendapatkan dukungan melalui dikeluarkan parameter kesiapan pembukaan destinasi wisata dengan indikator kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan ramah lingkungan atau cleanliness, health, safety, environment (CHSE) yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Adanya kebijakan tersebut memberikan dampak yang positif terkait dengan tetap dapat dijalankannya kegiatan wisata dengan tetap mematuhi protokol Covid-19. Optimisme kebangkitan kembali desa wisata dapat dilhat dari awal terbentuknya desa wisata yang merupakan inisiasi dan komitmen berbasis pada modalitas sosial seluruh warga masyarakat desa untuk bersama-sama membentuk dan melakukan proses penyelenggaraan desa wisata. Semangat dan komitmen bersama seluruh warga desa sebagai dasar pendekatan berbasis masyarakat dalam mewujudkan wisata yang tangguh tercermin dalam proses pembentukan dan penyelenggaraan desa wisata, sehingga dengan adanya peluang untuk desa wisata yang siap membuka kembali destinasi wisatanya dengan kepatuhan protokol Covid-19 menjadi titik awal baru bagi pelaku desa wisata untuk memulai kebangkitan ekonomi dari desa, tentunya melalui pembukaan kembali desa wisata. Buku panduan ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi pelaku desa wisata, misalnya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), BUMDesa, dan kelompok lainnya untuk menjawab kebutuhan terkait dengan upayaupaya yang diperlukan dalam kesiapan pembukaan destinasi, pengembangan, dan pengelolaan desa wisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan, khususnya di masa Pandemi Covid-19. Lombok Utara, 14 Oktober 2020